sumuttoday.my.id-Belawan Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan rantai pasok internasional
akibat perlambatan perdagangan dunia, aktivitas logistik di Sumatera Utara mulai menunjukkan
pemulihan. Arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung tercatat tumbuh sepanjang empat
bulan pertama 2026, ditopang meningkatnya distribusi domestik dan ekspor dari kawasan industri di
Sumatera.
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat volume peti kemas hingga April 2026 mencapai 227.799 TEUs
atau naik sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal
mulai pulihnya pergerakan barang di wilayah barat Indonesia, di tengah tantangan pelemahan
permintaan global dan perubahan pola perdagangan internasional.
Peningkatan terbesar masih berasal dari aktivitas domestik di Terminal 1 Belawan dengan volume
mencapai 203.443 TEUs atau tumbuh 7 persen secara tahunan. Distribusi barang konsumsi, bahan baku
industri, dan kebutuhan manufaktur disebut tetap terjaga seiring stabilnya konsumsi masyarakat dan
aktivitas industri nasional.
Sementara itu, pertumbuhan paling signifikan terjadi di Terminal 2 Kuala Tanjung pada segmen
internasional. Volume peti kemas internasional tercatat mencapai 11.630 TEUs atau melonjak 182
persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi bertambahnya layanan pelayaran
internasional serta meningkatnya aktivitas ekspor komoditas dan produk hilirisasi dari kawasan industri
Sumatera.
Tidak hanya peti kemas, aktivitas bongkar muat nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga
menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga April 2026 tercatat sebanyak 319.210 ton barang nonpeti
kemas dilakukan bongkar muat atau meningkat 197 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut mencerminkan mulai tumbuhnya aktivitas distribusi komoditas curah dan
kebutuhan industri di kawasan hinterland Sumatera.
Direktur Operasi dan Teknik PT Prima Multi Terminal, Wahyudi, mengatakan tren tersebut mencerminkan
mulai pulihnya kepercayaan pelaku usaha terhadap aktivitas perdagangan dan distribusi barang di
wilayah Sumatera.
“Pergerakan arus peti kemas menunjukkan industri dan perdagangan mulai kembali tumbuh. Meski
situasi global masih dinamis, kebutuhan distribusi domestik tetap kuat dan ekspor mulai meningkat,
terutama dari sektor industri pengolahan dan komoditas,” kata Wahyudi.
Menurut dia, pelabuhan kini menghadapi tantangan baru akibat pergeseran jalur logistik global,
penyesuaian jaringan pelayaran internasional, hingga dampak ketegangan geopolitik yang memengaruhi
biaya distribusi dan waktu pengiriman barang.
Karena itu, efisiensi operasional menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing pelabuhan nasional.
PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 86,22
persen. Adapun di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional mencapai 75,94 persen dan domestik 66,85 Perbaikan layanan dilakukan melalui optimalisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan
penumpukan, serta penguatan koordinasi operasional antarterminal dan pengguna jasa.
Selain fokus pada produktivitas, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian perusahaan. PMT
memperkuat implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui inspeksi berkala,
standardisasi alat operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja guna menjaga target nihil
kecelakaan kerja.
Wahyudi menambahkan, keandalan pelabuhan akan semakin menentukan daya saing industri dan
kelancaran distribusi nasional.
“Pelabuhan bukan hanya titik bongkar muat, tetapi bagian penting dari rantai pasok industri. Ketika
layanan makin efisien dan andal, maka biaya logistik bisa ditekan dan daya saing ekspor ikut meningkat,”
ujarnya.
Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Kuala
Tanjung diproyeksikan terus berkembang sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia,
terutama untuk mendukung penguatan industri hilirisasi dan ketahanan rantai paDi Tengah Tekanan Global, Arus Peti Kemas PT PMT Sumut Tumbuh 8 Persen
sumuttoday.my.id-Belawan Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan rantai pasok internasional
akibat perlambatan perdagangan dunia, aktivitas logistik di Sumatera Utara mulai menunjukkan
pemulihan. Arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung tercatat tumbuh sepanjang empat
bulan pertama 2026, ditopang meningkatnya distribusi domestik dan ekspor dari kawasan industri di
Sumatera.
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat volume peti kemas hingga April 2026 mencapai 227.799 TEUs
atau naik sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal
mulai pulihnya pergerakan barang di wilayah barat Indonesia, di tengah tantangan pelemahan
permintaan global dan perubahan pola perdagangan internasional.
Peningkatan terbesar masih berasal dari aktivitas domestik di Terminal 1 Belawan dengan volume
mencapai 203.443 TEUs atau tumbuh 7 persen secara tahunan. Distribusi barang konsumsi, bahan baku
industri, dan kebutuhan manufaktur disebut tetap terjaga seiring stabilnya konsumsi masyarakat dan
aktivitas industri nasional.
Sementara itu, pertumbuhan paling signifikan terjadi di Terminal 2 Kuala Tanjung pada segmen internasional,
Volume peti kemas internasional tercatat mencapai 11.630 TEUs atau melonjak 182
persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi bertambahnya layanan pelayaran
internasional serta meningkatnya aktivitas ekspor komoditas dan produk hilirisasi dari kawasan industri
Sumatera.
Tidak hanya peti kemas, aktivitas bongkar muat nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga
menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga April 2026 tercatat sebanyak 319.210 ton barang nonpeti
kemas dilakukan bongkar muat atau meningkat 197 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan tersebut mencerminkan mulai tumbuhnya aktivitas distribusi komoditas curah dan
kebutuhan industri di kawasan hinterland Sumatera.
Direktur Operasi dan Teknik PT Prima Multi Terminal, Wahyudi, mengatakan tren tersebut mencerminkan
mulai pulihnya kepercayaan pelaku usaha terhadap aktivitas perdagangan dan distribusi barang di
wilayah Sumatera.
“Pergerakan arus peti kemas menunjukkan industri dan perdagangan mulai kembali tumbuh. Meski
situasi global masih dinamis, kebutuhan distribusi domestik tetap kuat dan ekspor mulai meningkat,
terutama dari sektor industri pengolahan dan komoditas,” kata Wahyudi.
Menurut dia, pelabuhan kini menghadapi tantangan baru akibat pergeseran jalur logistik global,
penyesuaian jaringan pelayaran internasional, hingga dampak ketegangan geopolitik yang memengaruhi
biaya distribusi dan waktu pengiriman barang.
Karena itu, efisiensi operasional menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing pelabuhan nasional.
PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 86,22
persen. Adapun di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional mencapai 75,94 persen dan domestik 66,85 Perbaikan layanan dilakukan melalui optimalisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan
penumpukan, serta penguatan koordinasi operasional antarterminal dan pengguna jasa.
Selain fokus pada produktivitas, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian perusahaan. PMT
memperkuat implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui inspeksi berkala,
standardisasi alat operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja guna menjaga target nihil
kecelakaan kerja.
Wahyudi menambahkan, keandalan pelabuhan akan semakin menentukan daya saing industri dan
kelancaran distribusi nasional.
“Pelabuhan bukan hanya titik bongkar muat, tetapi bagian penting dari rantai pasok industri. Ketika
layanan makin efisien dan andal, maka biaya logistik bisa ditekan dan daya saing ekspor ikut meningkat,”
ujarnya.
Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Kuala
Tanjung diproyeksikan terus berkembang sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia,
terutama untuk mendukung penguatan industri hilirisasi dan ketahanan rantai pasok nasional.sok nasional.
Ns

Tidak ada komentar:
Posting Komentar